Zonasumut.co,- Simalungun, Pagi itu, awal Maret 2026, kawasan industri di KEK Sei Mangkei dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Dari berbagai penjuru Sumatera Utara, para pencari kerja datang dengan satu tujuan: mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik. Map berisi lamaran digenggam erat, pakaian terbaik dikenakan, dan keyakinan dibawa bahwa hari itu bisa menjadi titik balik.
Selama tiga hari, 4 hingga 6 Maret, arus manusia tak pernah surut. Antrean panjang menjadi pemandangan biasa. Sebagian rela berdiri berjam-jam di bawah terik matahari, sebagian lagi duduk di tepi jalan, sekadar menunggu giliran menyerahkan berkas. Tak banyak yang mereka tahu—hanya bahwa ada peluang, dan peluang itu tidak boleh dilewatkan.
Namun waktu berjalan, dan harapan itu perlahan berubah arah.
Memasuki pertengahan Mei 2026, suasana sudah jauh berbeda. Tidak ada pengumuman. Tidak ada kepastian. Bahkan sekadar informasi lanjutan pun nyaris tak terdengar. Ribuan pelamar yang pernah memadati lokasi kini hanya bisa menunggu, dengan pertanyaan yang sama: apa sebenarnya hasil dari semua itu?
Beberapa di antara mereka mulai meragukan proses yang telah dilalui. Mereka mengingat kembali hari-hari di lokasi job fair—tentang bagaimana berkas dikumpulkan tanpa penjelasan rinci, tentang minimnya informasi perusahaan yang membuka lowongan, dan tentang ketidakjelasan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan.
“Waktu itu kami hanya disuruh isi dan kumpulkan berkas. Tidak ada penjelasan jelas setelah itu harus bagaimana,” kata seorang peserta, mengenang pengalamannya.
Kondisi ini memunculkan kegelisahan yang lebih luas. Bagi sebagian orang, job fair tersebut bukan sekadar acara, melainkan harapan nyata untuk keluar dari pengangguran. Ketika harapan itu tak kunjung mendapat kepastian, yang tersisa bukan hanya penantian, tetapi juga kekecewaan.
Di tengah situasi ini, muncul desakan agar penyelenggara memberikan penjelasan terbuka. Transparansi dinilai menjadi hal mendasar yang seharusnya hadir sejak awal mulai dari daftar perusahaan, mekanisme seleksi, hingga jadwal pengumuman hasil.
Lebih jauh lagi, masyarakat sekitar kawasan industri juga menyoroti pentingnya keberpihakan terhadap tenaga kerja lokal. Mereka berharap peluang yang ada tidak hanya menjadi wacana, tetapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi warga di sekitar.
Kini, dua bulan telah berlalu sejak keramaian itu terjadi. Lokasi yang dulu dipenuhi antrean panjang telah kembali sunyi. Namun bagi ribuan pencari kerja, cerita belum selesai. Mereka masih menunggu—bukan sekadar pengumuman, tetapi kepastian atas harapan yang pernah dijanjikan. EA













