Warga Binaan di Labuhan Ruku Tewas Penuh Lebam.

Batubara, Peristiwa145 Dilihat

Zonasumut.co, Batu Bara. Kematian seorang warga binaan di KPLP Kelas II Labuhan Ruku, Kabupaten Batu Bara, Sabtu (23/5/2026), memantik tanda tanya besar. Korban ditemukan meninggal dunia dengan kondisi tubuh dipenuhi luka memar dan lebam di bagian punggung, memunculkan dugaan adanya kekerasan di balik jeruji besi.

Tragedi ini semakin menyayat setelah terungkap pengakuan sang istri, Perangin-angin. Malam sebelum korban dinyatakan meninggal, keduanya sempat melakukan video call. Dalam percakapan itu, korban terdengar ketakutan.

Ia meminta uang sebesar Rp2,5 juta dengan alasan berada satu kamar dengan seseorang yang disebut sebagai musuh lamanya saat berada di luar lapas.

“Dia bilang takut. Katanya satu kamar dengan musuhnya. Uang itu diminta supaya diberikan kepada tahanan tersebut agar dia aman dan tidak diganggu,” ungkap Perangin-angin kepada wartawan.

Karena panik dan takut sesuatu terjadi pada suaminya, sang istri langsung mentransfer uang yang diminta. Namun ironi terjadi hanya beberapa jam kemudian. Bukannya kabar baik, keluarga justru menerima informasi bahwa korban telah meninggal dunia.

Kecurigaan keluarga semakin menguat ketika melihat langsung kondisi jenazah. Mereka mengaku menemukan luka lebam dan memar pada tubuh korban, terutama di bagian punggung.

“Tubuhnya penuh lebam. Kami sangat terpukul melihat kondisinya,” ujar salah seorang anggota keluarga.

Tak hanya itu, keluarga juga mengaku kecewa lantaran masih dimintai sejumlah uang saat hendak menjemput jenazah korban di Puskesmas Talawi. Uang tersebut disebut sebagai biaya penanganan medis.

“Suami saya sudah meninggal, tapi kami masih diminta biaya. Kami bingung biaya apa lagi itu,” kata Perangin-angin dengan nada kecewa.

Hingga kini, pihak KTU KPLP Kelas II Labuhan Ruku belum memberikan penjelasan rinci terkait penyebab kematian warga binaan tersebut. Belum ada keterangan resmi apakah korban meninggal akibat sakit, perkelahian, atau dugaan tindak kekerasan lainnya.

Sementara itu, pihak keluarga mendesak aparat penegak hukum melakukan penyelidikan menyeluruh dan transparan. Mereka meminta dilakukan autopsi independen untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban, termasuk menelusuri dugaan praktik pungutan liar serta aliran uang Rp2,5 juta yang diminta korban sebelum ajal menjemputnya.

Pihak Polres Batu Bara melalui humas menyatakan masih melakukan pengecekan dan pengumpulan informasi sebelum memberikan keterangan resmi kepada publik.

Kasus ini kini menjadi sorotan masyarakat dan kembali membuka pertanyaan serius tentang keamanan, pengawasan, hingga dugaan praktik intimidasi di dalam lembaga pemasyarakatan. Di balik tembok penjara yang seharusnya menjadi tempat pembinaan, satu nyawa melayang dalam misteri yang hingga kini belum terjawab. (RD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *