Zonasumut.co. Simalungun — Jalan lintas yang menghubungkan Perdagangan dan Pematangsiantar kembali memperlihatkan wajah yang sama: berlubang, bergelombang, dan dipenuhi genangan air saat hujan turun. Bagi warga yang setiap hari melintas, pemandangan ini bukan lagi hal baru. Yang baru justru jika jalan tersebut benar-benar diperbaiki.
Di sejumlah titik, pengendara sepeda motor harus mengurangi kecepatan secara drastis untuk menghindari lubang. Mobil dan truk pun terpaksa bergantian mencari jalur yang dianggap lebih aman. Akibatnya, kemacetan kerap terjadi, terutama pada jam sibuk.
Saat hujan turun, situasinya menjadi lebih buruk. Lubang-lubang yang menganga tertutup air sehingga sulit terlihat oleh pengendara. Risiko kecelakaan meningkat, sementara kerusakan kendaraan menjadi keluhan yang terus berulang dari masyarakat.
Jalur Perdagangan–Siantar bukanlah jalan kecil yang sepi aktivitas. Ruas ini merupakan salah satu jalur penting yang menghubungkan pusat perdagangan, kawasan permukiman, hingga aktivitas perkebunan dan industri. Namun kondisinya justru memperlihatkan ironi pembangunan infrastruktur yang kerap digembar-gemborkan.
Pertanyaan yang muncul sederhana: mengapa kerusakan yang sudah berlangsung lama ini belum juga mendapat penanganan yang memadai?
Setiap tahun keluhan masyarakat terdengar. Setiap tahun pula harapan akan perbaikan kembali muncul. Namun di lapangan, lubang demi lubang masih setia menghiasi badan jalan. Bagi warga, janji perbaikan mulai terdengar seperti rutinitas musiman yang datang dan pergi tanpa hasil nyata.
Yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan berkendara. Keselamatan pengguna jalan juga menjadi taruhannya. Pengendara roda dua menjadi kelompok yang paling rentan. Satu kesalahan menghindari lubang dapat berujung kecelakaan, terlebih ketika arus lalu lintas sedang padat.
Jalan rusak bukan sekadar persoalan aspal yang terkelupas. Ia mencerminkan kualitas pelayanan publik. Ketika masyarakat harus berjibaku dengan jalan berlubang setiap hari, maka yang dipertanyakan bukan hanya kondisi jalan itu sendiri, melainkan juga keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan dasar warganya.
Sampai hari ini, Jalan Perdagangan–Siantar masih menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak cukup diukur dari spanduk, baliho, atau laporan serapan anggaran. Bagi masyarakat, ukuran paling sederhana adalah jalan yang bisa dilalui dengan aman. Dan untuk ruas ini, harapan itu tampaknya masih harus menunggu.(MI)












