Makan Bergizi Gratis atau “Maling Berkedok Gizi”? Anggaran Miliaran, Menu Hanya Ubi Rebus Tabur Keju dan Satu Buah Apel

Zonasumut.co, Batu Bara – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi anak sekolah kembali menjadi sorotan. Kali ini, menu yang dibagikan kepada siswa di wilayah Kecamatan Lima Puluh, Kabupaten Batu Bara, menuai kritik dari sejumlah orang tua dan aktivis karena dinilai jauh dari ekspektasi masyarakat.

Perdebatan bermula dari unggahan akun Facebook Mis C yang memperlihatkan paket MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kelurahan Lima Puluh, Jumat (5/6/2026). Dalam foto tersebut tampak sajian berupa ubi rebus yang ditaburi susu dan keju serta satu buah apel berukuran kecil.

Unggahan itu dengan cepat menyebar dan memancing beragam komentar dari masyarakat. Sejumlah emak-emak mengaku anak-anak mereka kurang tertarik mengonsumsi menu tersebut. Bahkan, muncul keluhan bahwa sebagian ubi yang disajikan diduga belum matang sempurna.

Seorang aktivis pemuda Batu Bara menilai keluhan tersebut harus menjadi perhatian serius pihak penyelenggara program.

“Program ini menggunakan anggaran yang sangat besar dan bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. Karena itu kualitas makanan yang disajikan harus benar-benar diperhatikan. Jangan sampai tujuan mulia program ini tidak tercapai karena menu yang diberikan justru tidak diminati penerima manfaat.”»

Menurutnya, masyarakat berhak mempertanyakan kualitas sajian yang diberikan apabila ditemukan makanan yang dianggap kurang layak atau tidak sesuai harapan.

Aktivis Batu Bara, Syahnan Afriansyah, SH, menyatakan pihaknya akan menyampaikan surat kepada Pemerintah Pusat dan Badan Gizi Nasional (BGN) agar dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program di daerah.

“Kalaupun menu tersebut secara administrasi dan teknis dianggap memenuhi standar gizi, aspek penerimaan anak-anak juga harus menjadi perhatian. Makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat maksimal apabila tidak dimakan oleh anak-anak,” katanya.»

Menanggapi kritik yang berkembang, Kepala SPPG Lima Puluh, Khairul Azmi, membantah anggapan bahwa ubi yang disajikan dalam kondisi setengah matang.

“Bukan setengah matang, Pak. Itu memang jenis ubinya. Dan tidak semua seperti yang dikeluhkan. Biasanya kalau ada komplain dari sekolah langsung kami evaluasi dan diskusikan bersama untuk dilakukan perbaikan,” jelas Khairul saat dikonfirmasi wartawan.»

Polemik ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai efektivitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang menelan anggaran besar di tingkat nasional. Sejumlah warga menilai evaluasi menyeluruh perlu dilakukan agar kualitas makanan yang diterima siswa benar-benar sesuai dengan tujuan program.

Dengan anggaran program yang mencapai triliunan rupiah secara nasional, publik menilai pengawasan terhadap kualitas makanan harus dilakukan secara ketat. Sebab, tujuan utama program bukan sekadar membagikan makanan, melainkan memastikan anak-anak memperoleh asupan bergizi yang layak, sehat, dan diminati.

Karena itu, kritik yang muncul dari masyarakat bukan semata soal ubi rebus atau ukuran apel yang diterima siswa. Yang dipersoalkan adalah sejauh mana kualitas makanan yang disajikan benar-benar mencerminkan semangat Program Makan Bergizi Gratis yang selama ini digaungkan pemerintah. (RD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *