INKONSISTEN ANTARA FAKTA DAN REALITA DALAM SELOGAN “BAHAGIA”

Opini165 Dilihat

INKONSISTEN ANTARA FAKTA DAN REALITA DALAM SELOGAN “BAHAGIA”

Oleh: Roma Damanik

Slogan “Bahagia” yang diusung Pemerintah Kabupaten Batu Bara sejatinya mengandung harapan besar. Sebuah cita-cita agar masyarakat merasakan kesejahteraan, kemudahan memperoleh pekerjaan, peningkatan pendapatan, dan masa depan yang lebih baik. Namun pertanyaannya, apakah masyarakat benar-benar sudah merasakan “Bahagia” itu, atau hanya sebatas slogan yang indah didengar namun jauh dari realita?

Di tengah gencarnya promosi investasi dan pembangunan kawasan industri, masyarakat justru masih dihadapkan pada persoalan klasik: sulitnya memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan industri modern. Ironisnya, program pelatihan kerja yang diselenggarakan pemerintah masih terkesan berjalan di tempat dan belum sepenuhnya menjawab tantangan zaman.

Memang, Balai Latihan Kerja (BLK) Batu Bara telah membuka sejumlah program seperti menjahit, memasak, barista, teknisi AC, pengelasan hingga pelatihan berbasis kecerdasan buatan (AI)

Namun yang menjadi persoalan bukan sekadar jumlah pelatihan, melainkan sejauh mana program tersebut mampu menjawab kebutuhan riil industri yang berkembang di sekitar Kabupaten Batu Bara.

Kabupaten Batu Bara saat ini berada di kawasan strategis yang dikelilingi pelabuhan internasional, kawasan industri, serta proyek-proyek hilirisasi nasional. Dunia kerja saat ini bergerak ke arah digitalisasi, otomasi industri, pengelolaan data, logistik modern, operator sistem berbasis teknologi, hingga tenaga teknis yang memiliki sertifikasi khusus. Sementara sebagian program pelatihan yang tersedia masih didominasi pola lama yang berorientasi pada keterampilan konvensional.

Pertanyaannya sederhana. Jika daerah ingin menjadi pusat industri, mengapa pelatihan yang diberikan belum secara masif mengarah pada kebutuhan industri masa depan? Di mana pelatihan operator logistik pelabuhan? Di mana pelatihan digital manufacturing? Di mana pelatihan maintenance industri, coding, data analyst, operator drone, atau sistem otomasi pabrik? Mengapa generasi muda Batu Bara masih harus mencari pelatihan tersebut ke luar daerah?

Ketimpangan inilah yang membuat slogan “Bahagia” terasa kehilangan makna di tengah masyarakat pencari kerja.

Sebab kebahagiaan tidak lahir dari baliho, spanduk, atau pidato seremonial. Kebahagiaan lahir ketika anak-anak daerah memperoleh pekerjaan layak di tanah kelahirannya sendiri.

Lebih jauh lagi, masyarakat berhak mempertanyakan efektivitas anggaran pelatihan kerja yang telah digelontorkan selama ini. Berapa persen peserta pelatihan yang benar-benar terserap ke dunia kerja? Berapa banyak yang kini bekerja di kawasan industri sekitar Batu Bara? Dan berapa yang akhirnya kembali menganggur setelah memperoleh sertifikat?

Sertifikat tanpa pekerjaan hanyalah selembar kertas. Pelatihan tanpa penempatan kerja hanyalah kegiatan seremonial yang menghabiskan anggaran.

Jika Pemerintah Kabupaten Batu Bara benar-benar ingin mewujudkan slogan “Bahagia”, maka orientasi pembangunan tidak boleh berhenti pada pencitraan. Pemerintah harus berani melakukan evaluasi total terhadap program pelatihan kerja agar selaras dengan kebutuhan industri yang sedang dan akan berkembang.

Masyarakat tidak membutuhkan slogan yang terdengar indah. Masyarakat membutuhkan bukti nyata. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan bukanlah seberapa sering kata “Bahagia” diucapkan, melainkan seberapa banyak rakyat yang benar-benar merasakan kebahagiaan itu dalam kehidupan sehari-hari.

Dan hingga hari ini, jurang antara slogan dan realita itu masih tampak begitu nyata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *