Air Mata Megawati Pecah Usai Nonton Pesta Babi, Kritik Keras Pengelolaan SDA dan Nasib Hutan Papua

Nasional, Politik391 Dilihat

ZonaSumut.co,Tangis Megawati Soekarnoputri pecah saat menyaksikan film dokumenter Pesta Babi. Film yang mengangkat potret kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan itu disebut meninggalkan luka sekaligus kegelisahan mendalam tentang masa depan hutan dan arah pembangunan di Indonesia.

Dalam forum dialog kebangsaan di Universitas Gadjah Mada, Megawati mengaku tersentuh hingga menitikkan air mata ketika menyaksikan gambaran kerusakan lingkungan dan tekanan terhadap masyarakat adat yang ditampilkan dalam film karya Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono tersebut.

“ Saya menangis melihat film itu. Apa yang ditampilkan benar adanya,” ujar Megawati.

Film dokumenter itu menyoroti perubahan besar di Papua Selatan akibat ekspansi perkebunan dan proyek berskala nasional yang disebut berdampak pada hutan serta ruang hidup masyarakat adat. Hamparan hutan yang selama ini menjadi sumber kehidupan perlahan berubah menjadi kawasan industri dan lahan terbuka.

Bagi Megawati, pembangunan tidak seharusnya berjalan dengan mengorbankan alam dan identitas masyarakat lokal. Ia menilai negara harus lebih bijak dalam mengelola sumber daya alam dan tidak hanya melihat hutan sebagai objek ekonomi semata.

Menurutnya, masyarakat adat memiliki hak untuk mempertahankan tanah, budaya, dan wilayah hidup mereka. Ia menegaskan bahwa perjuangan warga adat bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan upaya mempertahankan keberlangsungan hidup yang diwariskan turun-temurun.

“Di sana ada hukum adat, ada wilayah adat, ada kehidupan yang mereka jaga. Mereka meminta dihargai, apakah itu salah?” katanya.

Pernyataan Megawati sontak menjadi sorotan publik. Kritik yang disampaikan mantan kepala negara itu dinilai menjadi tamparan terhadap pola pembangunan yang selama ini dianggap terlalu menitikberatkan eksploitasi sumber daya alam tanpa memperhatikan dampak sosial dan lingkungan.

Film Pesta Babi sendiri belakangan ramai diperbincangkan dan memicu diskusi luas di berbagai daerah. Selain menampilkan isu deforestasi, film itu juga membuka perdebatan tentang proyek strategis nasional, hak masyarakat adat, dan masa depan hutan Papua yang terus menyusut.

Di tengah derasnya arus investasi dan pembangunan, air mata Megawati seolah menjadi simbol kegelisahan baru: ketika pembangunan dianggap maju, namun sebagian masyarakat justru merasa kehilangan tanah, hutan, dan ruang hidupnya sendiri. EA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *