Apakah Semangat Baru Hanya Maju di Atas Baliho?
Ditulis oleh: Muhammad Iqbal
Zonasumut.co, SIMALUNGUN — “Bersama Semangat Baru Simalungun Menuju Simalungun Maju.” Slogan itu kini menghiasi berbagai sudut Kabupaten Simalungun. Dari kantor pemerintahan hingga pinggir jalan utama, kalimat tersebut hadir sebagai simbol optimisme dan arah pembangunan daerah.
Namun di tengah gencarnya slogan yang terus digaungkan, muncul pertanyaan yang mulai ramai diperbincangkan masyarakat: apakah “Semangat Baru” benar-benar sudah dirasakan rakyat, atau hanya terlihat di atas baliho?
Pertanyaan itu muncul bukan tanpa alasan. Hingga hari ini, berbagai persoalan yang menyentuh kehidupan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Mulai dari kondisi infrastruktur yang dikeluhkan warga hingga persoalan tenaga kerja lokal yang masih menjadi tanda tanya besar.
Janji Manis KEK Sei Mangkei dan Realita Tenaga Kerja
Salah satu isu yang paling sering ditagih masyarakat adalah komitmen penyerapan tenaga kerja lokal di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. Kawasan industri yang berdiri di tanah Simalungun tersebut sejak awal diharapkan menjadi pintu masuk kesejahteraan bagi masyarakat sekitar. Harapan itu semakin besar ketika muncul target bahwa sekitar 70 persen tenaga kerja di kawasan tersebut diharapkan berasal dari masyarakat lokal.
Namun hingga kini, banyak warga mempertanyakan realisasi target tersebut. Di berbagai kecamatan sekitar kawasan industri, masih banyak pemuda yang mengaku kesulitan memperoleh pekerjaan di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di KEK Sei Mangkei.
”Kalau memang 70 persen tenaga kerja lokal sudah tercapai, seharusnya dampaknya bisa kami rasakan. Faktanya masih banyak anak muda yang mencari pekerjaan ke luar daerah, ” ujar seorang warga yang ditemui di sekitar kawasan industri.
Masyarakat menilai pemerintah daerah perlu lebih terbuka terkait data penyerapan tenaga kerja lokal:
Berapa sebenarnya jumlah pekerja asal Simalungun yang bekerja di perusahaan-perusahaan dalam KEK Sei Mangkei?
Berapa persen yang berada di posisi operator, teknisi, maupun jabatan strategis lainnya?
Tanpa data yang terbuka, angka 70 persen berisiko hanya menjadi janji yang terus diulang tanpa pernah benar-benar dapat diukur oleh publik.
Infrastruktur yang Masih Terpincang
Di sisi lain, persoalan infrastruktur juga masih menjadi keluhan yang terus terdengar. Di sejumlah wilayah, jalan penghubung antar desa dan sentra pertanian masih mengalami kerusakan yang menghambat aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketika musim hujan datang, kondisi tersebut semakin terasa:
Biaya transportasi meningkat karena medan yang sulit.
Distribusi hasil pertanian terganggu, merugikan petani lokal.
Masyarakat dipaksa beradaptasi dengan fasilitas yang jauh dari kata ideal.
Ironisnya, kondisi ini terjadi di tengah narasi pembangunan yang terus dikampanyekan sebagai bagian dari kemajuan daerah.
Menagih Bukti, Bukan Sekadar Seremoni
Tentu tidak bisa dipungkiri bahwa berbagai program pembangunan telah berjalan. Namun bagi masyarakat, ukuran kemajuan tidak hanya dilihat dari seremoni, peresmian proyek, atau slogan yang terpampang di ruang publik.
Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika:
Jalan yang rusak diperbaiki secara merata.
Pemuda lokal memperoleh kesempatan kerja yang adil di tanah sendiri.
Masyarakat dapat merasakan langsung manfaat dari investasi yang masuk ke daerah mereka.
Karena pada akhirnya, rakyat tidak sedang menilai seberapa indah sebuah slogan dibuat. Mereka sedang menilai apakah janji di balik slogan itu benar-benar diwujudkan.
Dan sampai pertanyaan mengenai tenaga kerja lokal, infrastruktur, serta pemerataan pembangunan terjawab, pertanyaan itu akan terus bergema di tengah masyarakat: Apakah Semangat Baru benar-benar sedang membawa Simalungun maju, atau hanya maju di atas baliho?







